Hotelnella – Kementerian Pariwisata aktif mengenalkan destinasi unik dan autentik di Bangka Belitung. Kegiatan ini bertujuan memperkuat posisi Belitung sebagai salah satu dari 10 Destinasi Prioritas Pariwisata, sekaligus menyoroti atraksi anti-mainstream yang jarang terekspos wisatawan dari desa budaya hingga pengelolaan konservasi laut.
Program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) salah satu upaya Kementerian Pariwisata dalam mendukung pencapaian target 1,08 miliar perjalanan wisatawan nusantara pada tahun 2025.
“Melalui program ini, kami mendorong pelaku industri dan media untuk mengemas paket wisata yang inovatif dan berkelanjutan. Kami ingin wisatawan tidak hanya datang untuk berjemur di pantai, tapi juga merasakan kehidupan masyarakat lokal dan belajar langsung dari alam serta budaya setempat,” ungkap Erwita Dianti, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata.
1. Pulau Seliu

Salah satu daya tarik utama Pulau Seliu adalah kesempatan untuk menyelami kehidupan masyarakatnya. Pulau ini dihuni oleh komunitas Melayu yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan penggarap kebun kelapa. Wisatawan bisa melihat langsung bagaimana warga mengolah hasil laut, menganyam jaring, atau memproses kelapa menjadi kopra secara tradisional. Pengalaman ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menciptakan interaksi yang hangat antara tamu dan tuan rumah.
Beberapa rumah warga bahkan membuka diri sebagai homestay sederhana, menawarkan penginapan dengan pengalaman tinggal bersama keluarga lokal. Makanan laut segar seperti ikan bakar, cumi, dan sambal terasi khas Belitung sering menjadi hidangan utama yang disajikan bagi tamu yang menginap
Anugerahslot travel berkesempatan melihat langsung proses pembuatan emping khas Bangka Belitung di rumah warga, bahkan ikut membuatnya. Selain emping, warga setempat juga kerap membuat kerupuk kemplang yang berbahan dasar daging ikan laut segar. Wisatawan juga dapat berkeliling Pantau Seliu untuk menikmati suasana kehidupan tenang warga sekitar. Setelah itu, jangan lupa menyesap secangkir kopi hangat sembari memandangi deburan ombak di pinggir pantai Pulau Seliu.
Pulau Seliu juga dikelilingi oleh garis pantai berpasir putih dan laut biru kehijauan yang jernih. Pantai-pantainya belum banyak tersentuh pembangunan besar, menjadikannya sempurna untuk bersantai atau berjalan kaki menyusuri garis laut yang sepi. Salah satu pantai yang cukup terkenal di sini adalah Pantai Gusong, yang muncul saat air laut surut membentuk pulau pasir kecil di tengah laut. Tempat ini sering menjadi lokasi favorit untuk berfoto, berenang, atau sekadar menikmati panorama matahari terbenam yang dramatis.
Untuk mencapai Pulau Seliu, wisawatan hanya perlu berkendara dari Tanjung Pandan ke Teluk Gembira sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat. Dari pelabuhan kecil ini, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor selama kurang lebih 15 menit menyeberangi perairan yang tenang dengan biaya Rp15 ribu – Rp20 ribu per orang.
2. Desa Terong

Di tengah pesona pantai dan pulau Belitung yang sudah mendunia, terdapat sebuah desa yang bercerita tentang transformasi dan kreativitas tanpa batas. Desa Terong, awalnya dikenal sebagai kawasan tambang timah, kini berubah menjadi Desa Wisata Kreatif Terong destinasi yang hidup, edukatif, dan penuh warna.
Desa ini bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu 75 Desa Wisata Terbaik ADWI 2023, serta menyandang predikat Desa Wisata Kreatif oleh pemerintah Indonesia karena keberhasilannya mengubah bekas lahan tambang menjadi destinasi yang edukatif, berkelas, dan berkelanjutan.
Desa Terong terletak di jalur pesisir utara Pulau Belitung, hanya sekitar 13-15 km dari pusat Kota Tanjung Pandan. Dengan kendaraan pribadi atau sewaan, perjalanan darat biasanya membutuhkan 15–20 menit melalui jalan utama yang sudah beraspal dan mudah dilalui
Di Desa Terong, wisatawan disambut dengan pengalaman wisata alam, edukasi, dan budaya dalam satu paket. Bukit Tebalu Simpor Laki menjadi jalur trekking yang menantang namun memikat untuk menikmati panorama perbukitan serta hamparan hijau yang terbentang luas. Tepat di kawasan mangrove, pengunjung bisa mengikuti aktivitas seperti mancing ikan Beluko, mencari kerang bakau (timong) saat surut, dan menyusuri sungai dengan perahu sambil belajar fungsi ekosistem bakau dalam menyerap karbon dan menahan abrasi.
Wisatawan dapat belajar membuat kerajinan tangan dari daun lais hasil anyaman seperti tas, tikar, atau suvenir cantik lainnya. Bahkan bisa dipelajari dalam aktivitas sederhana namun mendalam pasca-panen sayuran, seperti panen sayur sawi, bayam, atau kangkung di lahan agrowisata, dan langsung diproses menjadi hidangan tradisional.
3. Desa Keciput

Di Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Belitung, terdapat Penangkaran Tukik Aik Batu Banyak, sebuah pusat konservasi penyu yang dikelola oleh komunitas lokal sebagai bagian dari upaya pelestarian penyu dan edukasi lingkungan. Di lokasi ini, telur penyu ditetaskan secara aman dan anak penyu (tukik) dirawat hingga matang sebelum dilepas kembali ke laut, biasanya di pantai Tanjung Kelayang atau pulau-pulau sekitar.
Dikutip dari Kemenparekraf.go.id, pengunjung bisa turut langsung dalam pelepasan tukik, bahkan membeli bibit penyu untuk kemudian dilepas ke habitat alaminya. Dengan tiket masuk mulai dari Rp25.000, tempat ini juga dilengkapi fasilitas seperti area makan, musholla, dan selfie area, menjadikannya destinasi ekowisata edukatif yang sangat cocok untuk keluarga dan pelajar.
Penangkaran ini mendapat dukungan dari Pelindo Regional II untuk memperkuat upaya konservasi dan edukasi yang sesuai regulasi, demi meningkatkan populasi penyu dan menjaga status Geopark Belitong sebagai situs bertaraf internasional.
Selain itu terdapat kelas membatik tulis dengan motif khas pesisir Keciput, anyaman tangan, pertunjukan tari tradisional seperti Tari Hadera, serta tradisi Selamat Kampong dan Muang Jong yang telah tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal. Semua aktivitas ini menjadikan Desa Keciput sebagai destinasi wisata yang menyeluruh: memadukan alam, budaya, kuliner, dan edukasi dalam satu kesatuan pengalaman turis yang dinamis dan berkesan.
Nah untuk menuju Desa Keciput, wisatawan perlu menempuh jarak sekira 27 km dari Tanjung Pandan, dan bisa dicapai dalam waktu 30–40 menit menggunakan kendaraan pribadi.
Mengingat angkutan umum lokal cukup terbatas, sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, menyewa mobil, atau mengikuti paket wisata yang sudah termasuk transportasi.