Hotelnella – Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, tetap menjadi salah satu tujuan utama wisata selama libur panjang Idulfitri 2025/1446 H. Sejak awal masa libur, arus kunjungan terus mengalir, dengan perkiraan total pengunjung mencapai 76.000 orang.
Untuk menyambut momen tersebut, pengelola Taman Wisata Candi Borobudur menghadirkan suasana baru dengan menyiapkan panggung rakyat. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisata, tak hanya menikmati kemegahan candi, tetapi juga mengenal lebih dalam sejarahnya yang berasal dari masa kerajaan kuno.
Untuk itu, diharapkan sambutan ini dapat memberikan pengalaman baru bagi wisatawan, tidak hanya untuk melihat kemegahan Candi Borobudur, tetapi juga untuk belajar mengenai sejarah berdirinya candi tersebut pada masa kerajaan pada zaman dahulu.
Lonjakan Terjadi di Candi Borobudur
Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur terus menjadi magnet wisata bagi pengunjung lokal maupun mancanegara, terutama saat libur panjang.
Pantauan Hotelnella.net menunjukkan lonjakan pengunjung sejak loket dibuka. Area taman, pelataran, hingga puncak candi dipadati wisatawan.
Liburan tahun ini, pengunjung juga disuguhkan pertunjukan seni di berbagai titik kawasan Candi Borobudur. Atraksi seni Jawa digelar mulai dari area utama candi hingga Kampung Seni Borobudur, menambah daya tarik dan pengalaman budaya bagi para wisatawan.
“Setelah turun dari area candi atau pelataran, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan ke Kampung Seni Borobudur (KSB) untuk menyaksikan beragam atraksi seni,” ujar Ayunanto, Kepala Kelompok Dukungan Bisnis PT Taman Wisata Borobudur (TWB), Jumat (4/4/2025) kepada Hotelnella.net.
Di sana, pengunjung juga dapat ikut serta dalam berbagai aktivitas, seperti membuat anyaman dari daun pandan dan atraksi interaktif lainnya yang melibatkan partisipasi langsung wisatawan.
Sejarah Singkat Candi Borobudur

Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 780 hingga 840 Masehi. Dinasti ini merupakan kekuatan yang berkuasa di wilayah tersebut pada masa itu. Candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan agama Buddha sekaligus tempat ziarah. Di dalamnya terdapat pesan moral yang mengajarkan manusia untuk melepaskan diri dari nafsu dunia dan menempuh jalan menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.
Keberadaan Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh pasukan Inggris di bawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles. Pembersihan seluruh area candi rampung pada tahun 1835.
Borobudur dibangun dengan konsep Mandala, yang mencerminkan struktur alam semesta dalam ajaran Buddha. Arsitekturnya berbentuk persegi dengan empat pintu masuk dan bagian tengah berbentuk lingkaran. Struktur ini terbagi menjadi dua bagian utama: bagian luar yang menggambarkan dunia manusia terbagi dalam tiga zona, dan bagian pusat yang mewakili alam Nirwana.
Zona Kamadhatu
Alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang.
Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Menggambarkan mengenai sifat dan nafsu manusia, seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah.
Tudung penutup pada bagian dasar telah dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief yang tersembunyi di bagian bawah. Koleksi foto seluruh 160 foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur yang terdapat di Borobudur Archaeological Park.
Zona : Rupadhatu

Alam peralihan, dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia.
Rapadhatu terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung buddha. Secara keseluruhan ada 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya.
Menurut manuskrip Sansekerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel.
Zona : Arupadhatu

Alam tertinggi, rumah Tuhan.
Tiga serambi berbentuk lingkaran mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.
Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbalik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan. Stupa terbesar yang berada di tengah tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42m diatas tanah dengan diameter 9.9m. Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.